Posted by : Unknown 28 Maret 2016




Apa kamu tahu?

Sekali lagi aku bertanya, apakah kamu tahu?

Antara gunung dan pepohonan
Antara samudra dengan daratan
Antara angin dan tanah nan elegan
Alur siang dan malam tanpa suara

Dia berdiri, antara batas langit dan daratan, di tengah malam temaram bertemankan bulan. Cahayanya berbeda dari biasanya.

Di sini, di bawah cahaya bulan. Therrese berdiri, bersanding pepohonan. Hidup bukan berarti hidup. Mati bukan berarti mati. Therrese tersenyum menatap bulan. Seakan bulan itu mengajaknya berbincang-bincang di tengah sunyinya malam. Berlatar kunang-kunang yang berterbangan.

"Apakah kamu pernah merasakan cinta?" Therrese bertanya pada bulan.

Sunyi. Tak ada jawaban. Tentu bulan tak akan menjawab. Bahkan hingga hari kiamat.

"Aku sedang mencinta." Batin Therrese, tersenyum lirih.

***

Rumah-Mu itu besar. Tapi kecil. Tidak sempit. Tidak pula luas.

Hujan itu seperti napas-Mu. Tapi aku terkadang merasa sesak ketika menghirup udara di antara hujan. Tentu saja aku akan tersedak karna air, dan membuatku sesak sehingga aku kesulitan bernapas.

Aku membenci hujan! Bukan karena aku tidak bersyukur. Melainkan karena aku tidak bisa bernapas dengan leluasa. Akhirnya aku memilih hanya untuk berbicara kepada bulan. Entah ketika aku merasa gundah, ataupun merasa bahagia.

"Dia, lelaki yang tinggi semampai. Rambutnya sedikit bergelombang. Berkulit hitam. Namanya Xeon." Ucap Therrese.

Dia hidup di antara ribuan bayangan di siang hari. Di malam hari dia seperti kegelapan yang melesat masuk. Menjeru di antara ketidakpastian.

"Aku menyayanginya, seperti darah hingga seluruh organ dalamku." Ujar Therrese.

Dia selalu berjalan di antara malam bersama bulan. Sedangkan Therrese berdiam di antara gelap dan berucap seorang diri pada bulan.

"Aku bahagia meskipun sendiri." Batin Therrese.

***

Suasana taman kecil itu terasa sendu. Memang matahari hampir kembali ke peraduannya. Tapi dirinya tak tersenyum atau berbahagia. Padahal banyak anak-anak kecil yang bermain di hadapan dirinya. Di sebelahnya tergeletak sebuah buku yang dibawa olehnya. Dirinya mengabaikan buku itu, dan hanya termangu diam di bawah pohon rindang tempatnya duduk. Dirinyalah yang disebut sebagai Xeon.

Ellith menghampiri dan mengambil buku yang berada disebelah Xeon. Xeon melihatnya. Namun tak merespon apapun.

Ellith menjauh dan berlari dari Xeon, sambil membawa buku di sebelah Xeon tadi. Membaca bagian depannya. Tapi tidak mengerti sedikitpun.

Ellith berlari hingga akhirnya mendapati Zac yang sedang duduk melukis awan, berlatarkan langit yang tengah berubah warna ketika matahari hampir menghilang.

"Hei, kamu tau? Maksud dari tulisan orang di sana itu apa?" Tanya Ellith, sambil menunjuk ke arah Xeon.

"Aku ngga tau." Balas Zac, singkat.

"Tulisannya terasa nyata." Ujar Ellith.

"Entahlah." Balas Zac, tanpa memandang Ellith.

"Uggh … kamu menyebalkan Zac!!" Ellith menjauh dari Zac. Berlari mendekati Xeon dan mengembalikan buku yang di ambilnya tadi, dari Xeon.

"Apa kamu membacanya?" Ujar Xeon, sontak Ellith merasa kaget.

Ellith mengangguk kecil menandakan jawaban "ya".

"Apa kamu mengerti?" Tanya Xeon

Ellith hanya menggelengkan kepalanya.

"Baiklah, itu sebenarnya adalah mimpi. Dia adalah seorang gadis yang kumimpikan hampir setiap malam."

"Lalu?"

"Entahlah, hanya saja seluruhnya terasa nyata."

"Bagaimana mungkin?"

"Aku juga tidak tahu."

"Ohh begitu. Langitnya hampir gelap, cepatlah kau pulang. Aku ingin pulang."

"Baiklah. Siapa namamu?"

"Ellith." Ellith menjauh, sambil melambaikan tangan.

***

Malam kembali tiba. Xeon terlelap di bawah pohon. Tempat di mana dirinya selalu mengahabiskan waktu. Xeon merasa dirinya seperti dipanggil kembali di antara kegelapan yang curam dalam mimpinya. Setitik cahaya pun bersinar. Mendekat dan akhirnya menghilang.

"Therrese?" Xeon menyebutnya begitu saja.

Seketika dirinya terbangun. Sekujur tubuhnya berkeringat. Dirinya mendekap bantal dan menitikkan air mata. Rasanya seperti mimpi buruk.

"Aku tidak pernah tahu. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Dirinya menatap ke langit, bertabur bintang dan bulan. Matanya masih berkunang-kunang, setengah sadar. Xeon menatap bulan dengan lekat. Bulan itu mengeluarkan siluet bakeperti wajah Therrese.

"Therrese." Ucap Xeon lagi, dalam keadaan setengah sadar.

***

"Aku mendengarmu, Xeon." Ujar Therrese.

"Aku memang hanya bayangmu, aku bagian dari masa lalu dirimu. Hingga waktunya tiba aku akan selalu di dekatmu. Melalu mimpi dan kenangan. Hukum silang antaralam. Bagian bawah hingga atas. Bumi yang satu dengan yang lain. Akan aku ingat dirimu. Meskipun hidup ini selalu berulang kembali. Aku takkan melupakanmu." Therrese tersenyum. Mengukir cinta dalam kata dan rasa.

Memahat kasih. Bak menjatuhkan bintang kejora dalam dada.

"Aku padamu."

***
"Aku hanya mengingat sedikit tentangmu." Ujar Xeon.

Kehidupan ini nyata. Antara alam yang satu dengan yang lain. Antara bumi yang satu dengan yang lain. Antara planet yang hidup dan mati. Antara galaxy yang saling berkesinambungan. Menderu dalam batin manusia dan mahkluk sekitarnya. Menjadi silang antar karsa dalam raga.

Hanya satu kata "damai" yang dicari banyak orang.

23 Maret 2016, Yogyakarta
-Ensen-

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Ensen - Nagasena - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -