Posted by : Unknown 17 Februari 2016

“Dunia kini sudah berbeda
Tapi dirinya selalu mengayom diri ini
Meracik menjadi peramu ramuan cinta
Penuh bentuk ambisi untuk meruntuhkan setiap kata.”

(Tinta hitam, di atas secarik kertas berbalut marmer)

Musik adalah irama yang saling berpadu untuk membentuk setiap fonem-fonem indah, berlatarkan dengan situasi alam yang berkesinambungan dengan harmonisasi kehidupan. Menciptakan setiap nuansa fonem menjadi rincian kasih bertabur bunga.
“Prisi? Ibu mau pergi ke toko dulu ya!” ujar Shanti, pada Pricilia.
Pricilia, dia mencintai Ibunya, menjejalkan setiap perasaan yang selalu membuat dadanya terasa seperti kembang kempis. Memoar tentang kenangan masa lalu saat merayakan hari ulang tahunnya. Setiap kali hari spesial itu dimulai, di atas meja akan selalu tersedia berbagai macam menu makanan, dan yang selalu wajib menjadi menu utama adalah ‘mie’, Mie biasanya adalah simbolik pengharapan agar panjang umur.
“Iya Bu,” balas Pricilia, sambil berkutat dengan laptop miliknya.
Kopi, bagi Pricilia seminimalnya sehari meminum empat cangkir kopi. Ketika kebutuhanya untuk meminum kopi tidak tercapai, dirinya merasa seperti kelu, malas, sulit bergerak.
***
            “Hoii! Lia, maen yok!” ucap Reno, sambil memanggil Lia, untuk segera main.
         “Sorry No, gue ngga bisa keluar. Nyokap lagi keluar rumah soalnya, belanja buat keperluan dirumah,” balasku, melalui jendela rumah.
            “Ohh ... gitu, ya udah deh.”
            “Ngga apa-apa kan No?” ujarku, sedikit menyesal.
            “Iya, ngga apa-apa. Kan masih bisa maen besok.”
            “Iyah No.”
            Pricilia memandangi lelaki itu, hingga tubuhnya tak lagi terlihat oleh mata, karena tertutup oleh rumah-rumah yang berjajar cukup rapat. Angin berembus sepoi-sepoi, menyapa wajahku lembut. Kicau burung hari ini terdengar di mana-mana, merdu. Ibu, dia selalu membuat Pricilia tersenyum menikmati setiap hari-hari dengan kisah bahagia. Jemari-jemari itu selalu mengusap wajah Pricilia ketika dirinya merasa kesepian.
            Cerita cita dan harapan, itulah yang membuat Pricilia selalu bangkit dari keterpurukan.
***
            Dulu, sekitar 5 tahun silam. Pricilia, gadis berperawakan tinggi, wajahnya sendu, sifatnya sulit ditebak. Hari-harinya selalu membuat ulah.
            “Woy! Randu!” pekik Pricilia, sambil menunjuk-nunjuk wajah temannya itu.
            “Apaan sih Prisi? Gue capek tau!” protes Randu.
            “Ettt dah. Lu tuh sadar ngga sih! Lu tuh sering gangguin pemandangan gue!” ucap Pricilia.
            “Haa!? Ngga salah?” Randu mendengus kesal.
            “Hahaha ... idiot lu! Yah jelas lah! Lu tuh sok carper sama guru!” jelas Pricilia.
            “Mulut lu tuh jaga neng, lu bisa ancur gara-gara omongan lu yang tajem!” bentak Randu.
            “Haa? Gila lu! Berani lu sama gue?” ucap Pricilia, matanya membelalak, kesal.
            “Jelas gue berani kalo lu bukan cewe!” balas Randu, jengkel.
            Pricilia membalikkan badan, dan mengambil langkah kaki seribu. Menjauhi diri dari Randu. Sebenarnya Pricilia hanya mencari perhatian. Orangtuanya selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, pada saat itu. Membuat Pricilia merasa jengah.
***
            Kelap-kelip warna lampu neon di mana-mana ketika malam hari datang. Pricilia duduk di atas atap menikmati embusan angin yang menerpa wajahnya pelan. Menerka-nerka tentang kejadian-kejadian yang sudah terlewat.
            Satu persatu, kenangan tentang masa kecil muncul, menyusupi memori otak Pricilia. Kehidupan ini selalu ada tolak ukur.
            “Ibu?”
            “Ya?”
            “Ibu pernah ngga pacaran?”
            “Pernah.”
            “Kaya gimana rasanya?”
            “Emang kenapa? Kok tumben nanya hal begituan?”
            “Ngga apa-apa sih, Bu.”
            “Ohh, kamu lagi jatuh cinta sama orang?”
            “Iyah.”
            “Siapa?”
            “Ibu –“
            Belum habis kata-kata Pricilia, ibunya sudah memotong, “loh itu mah bukan cinta namanya.”
            “Ngga bu, ibu salah,” protes Pricilia.
            “Jadi?”
            “Yah gitu lah,” ucap Pricilia.
            “Gitu gimana?” balas ibunya.
            “Yah aku cinta ibu, penuh kasih.”
            “Ohh gitu, bilang dari tadi atuh sayang.”
            “Yah, mama kan tadi langsung main potong aja.”
            “Yah maap atuh, Sayang.”
         Pricilia menuliskan ribuan kata di atas carik kertas. Menorehkan aksara pada setiap lembarnya. Sebuah buku yang sangat tebal, mungkin umurnya sudah 12 tahun. Buku diary itu diberikan padanya ketika berumur 8 tahun. Pricilia sudah mulai mengumpulkan seluruh cerita masa kecilnya saat itu, hingga sekarang.
          Mulai hari ini, tertulis 12 Maret 2015. Pricilia membungkus buku tebal itu dengan kain cokelat, tertutup rapih dan apik. Meniatkan bahwa mulai hari ini, dirinya tak akan pernah menyentuh yang namanya diary yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
***
      Malam sudah datang, menitipkan cerita-cerita masa lalu yang selalu menggerogoti ingatan Pricilia, wajahnya sendu. Sedu sedan Pricilia menangis tanpa henti, mengingat ayahnya yang meninggal dua tahun silam.
            “Ibu?”
            “Yah nak? Kamu habis nangis?” tanya ibu pada Pricilia.
          Pricilia hanya bisa mengangguk, terjatuh dalam pelukan Ibunya. Merasakan kehangatan yang menjalari seluruh tubuhnya.
            “Sttt, kamu ngga boleh nangis.”
            “Iyah, Ibu.” Pricilia mengusap air mata yang terjatuh, dari mata lentiknya.
            “Nah gitu kan lebih cantik,” ujar Ibu, mencium kening Pricilia.
       Ketika malam tiba, kadang Pricilia merasa sedih. Tapi ... ibunya selalu menenangkannya. Berharap selalu bisa menikmati hari yang tak pernah habis.
          “Besok aku boleh keluar main sama Reno ngga, Bu?” tanya Pricilia, sambil memandangi wajah ibunya.
            “Boleh, besok Ibu di rumah. Soalnya Ibu besok juga ngga beli bahan lagi, kan masih banyak.”
            “Horee!!!” Pricilia mengulas senyum di wajahnya.
            “Sekarang kamu tidur dulu yah, Prisi?” Ibunya membelai wajah dan rambut Pricilia.
            “Iya, Bu. Siap!” ujar Pricilia, kemudian berlalu.
            Pricilia langsung masuk ke kamarnya, menarik selimut yang tidak terlalu tebal terbuat dari kain perca.
***
            Pagi sudah tiba, udara masih segar untuk dinikmati. Suara-suara kendaraan bermotor juga tidak terlalu bising. Orang-orang sibuk berlalu lalang, memilah bahan makanan untuk dimasak. Hari yang baru untuk membuka lembaran baru, untuk Pricilia.
            Cepat-cepat Reno menghampiri Pricilia, yang masih terlelap di rumahnya.
            “Pricilia!!!” panggil Reno, dari pelataran rumah.
            Pricilia belum bangun juga. “Hmmm!” suaranya terdengar hingga ke pelataran rumah, Reno mendengarnya.
            Aduh! Nih anak masih molor kali yah, padahal udah jam 9 pagi! batin Reno.
            “Tante Siska!?” panggil Reno, sambil mengetuk pintu.
            “Ya!? Siapa ya?”
            “Ini Reno, Tan.”
            “Ohh ... Reno, ada apa?”
            “Nyari Pricilia, Tan. Mau main keluar.”
            “Ohh, coba panggil aja ke kamarnya.”
            “Oke deh, Tan. Makasih ya, Tan.”
            “Iya, sama-sama.”
           Reno bergegas, mengetuk-ketuk kamar Pricilia pelan. Tidak dibuka. Reno menarik knop pintu, tidak terkunci. Tak lama Reno melihat Pricilia yang masih tertidur pulas di atas kasurnya, dengan gaya terbalik seperti anjing sedang di elus-elus.
            “Heh!!! Bangun Pricilia,” ucap Reno, membuncah tubuh Pricilia.
           “Haa!? Apaan?” Pricilia terduduk di atas kasurnya, sambil mengucek-ucek matanya. Tak lama dirinya kembali tersungkur di atas kasurnya.
            “Ishh! Nih anak! Jadi main ngga?” Reno menggelitiki kaki Pricilia.
       Pricilia terbangun, kepalanya terpentuk rak kayu di atas kasurnya, yang di pasang gantung, “Aduh!” pekik Pricilia.
            “Nah kan! Kapok!” ejek Reno.
            “Ihkk!!! Sana-sana keluar! Iya gue mau main, gue salin dulu!” balas Pricilia.
***
“Angin? Aku mengadu padamu
Hari ini, aku merindu
Pada sosok yang lalu tengah hilang
Tapi ... ada orang lain kini yang mengisi hariku.”
(Tinta biru, di atas buku kecil Pricilia)
            Tepi jurang, tempat di mana Pricilia dan Reno selalu menghabiskan waktu bersama. Bermain ilalang atau bermain kejar-kejaran, mengitari seluruh bukit sambil tertawa renyah. Menjadikan seluruh kegiatan yang dilakoni, menyenangkan.
“Hari ini, anginnya sejuk,” ucap Pricilia, mengamati sekitar. Kemudian Pricilia duduk di atas rumpunan rumput yang berjajar.
            “Memang,” balas Reno, duduk di sebelah Pricilia yang tengah terduduk dengan santai.
         Pricilia memejamkan matanya, merasakan secara perlahan angin yang mengusap seluruh bagian tubuhnya yang tak tertutup. Sejuk. Seperti melepaskan lelah yang selalu mengikutinya. Membiarkan seluruh kenangan pahit luntur dari dirinya.
            “Suka!?” tanya Reno.
            “He em ... gue suka.”
            “Ohh ... baguslah.”
            “Ngga usah pake ohh kenapa?” Pricilia memukul pelan pundak Reno.
            “Ehh!!! Sakit!”
            “Ahkk ... bohong! Kan pelan.”
            “Buat lu pelan, buat gue kaya lu mukul pake gada raksasa tau!” Reno membela diri.
            “Dasarrr!!! Nyebelin tau ngga sih!” Pricilia memukul pelan Reno, kali ini dibagian paha.
            “Ehh! Jangan kebiasaan mukul!” protes Reno.
            “Yeee ... salah sendiri!”
            “Ya udah lah sorry!”
            “Iya, ngga apa-apa.”
            Matahari hampir berada tepat di ubun-ubun, menandakan sudah tengah hari. Pricilia beranjak dari tempatnya berdiam.
            “Pulang yuk,” ajak Pricilia.
            “Emoh, gue ngga mau!” Reno menjulurkan lidah ke arah Pricilia.
            “Ya udah, gue tinggal ya!” ancam Pricilia.
            “Ehh ... jangan dong!” ucap Reno.
            “Mangkanya, ayo pulang.” Pricilia menarik lengan Reno, tidak terlalu kasar.
            “Buset dah! Gue bisa jalan sendiri oi!” protes Reno.
            Pricilia berjalan, Reno tertinggal di belakangnya.
            “Tunggu hoi!” pekik Reno.
            “Lama lu!”
        Mereka berlari-lari, berlomba siapa yang lebih dulu sampai di rumah Pricilia. Brukk! Reno melihat Pricilia terjatuh, tersandung batu.
            “Pricilia? Lu ngga apa-apa?”
            “Iya ngga apa-apa kok.”
            “Mending kita jalan pelan aja deh, toh nanti sampe juga,” usul Reno.
            “Iyah, kaki gue sakit.”
        Reno menarik tubuh gadis itu, naik di atas punggungnya. Membiarkannya bersandar di punggung Reno. Menikmati setiap embusan angin yang menerpa wajah mereka.
***
            “Ibu!?” pekik Pricilia, ketika sampai di rumah. Tak ada jawaban.
            Sebuah kado besar terlihat di atas meja. Pricilia mendekati kado itu dan membukanya. Ada secarik surat putih, dengan motif hati di ujung k semanannya. Segera Pricilia membuka surat itu, tertulis :
            Dear My Sweety,
            Pricilia? Ibu harus pergi. Semua bahan makanan ada di dapur belakang. Ada jagung, kentang, beras, biskuit, roti, mie, rempah-rempah dan bahan lainnya.
            Ibu ada urusan, kemungkinan pulang sekitar minggu depan. Tapi kamu ngga perlu khawatir ya, ibu pasti baik-baik saja kok. Ibu harus ketemu sama bude kamu.
            Ini kado dari ibu, hari ini ulang tahun kamu yang ke 20 kan? Semoga kamu suka yah sama hadiah ini.
Tertanda         

Ibu                  

         Pricilia tersenyum, tapi seketika buliran air matanya terjatuh. Berlinang membasahi pakaiannya. Dirinya terduduk di ambang pintu masuk kamarnya.
     Reno sudah pulang, Pricilia hanya seorang diri di rumahnya. Merenungi apa yang terjadi, mengapa ibunya tidak mengajaknya.
***
            Pricilia benar-benar sayang pada ibunya, dia menunggu hingga hari yang telah ditentukan ibunya untuk pulang. Tapi tak terlihat jua ibunya. Ibu bagi Pricilia, seperti berlian. Mengilap, tanpa ada cacat. Mencinta dengan setulus hati.
            Dua minggu sudah berlalu. Tak ada kabar.
            Tiga minggu sudah berlalu. Terlihat surat yang dikirim melalui kantor pos.
            Surat kabar ibunya telah tiada.

            Kado terakhir, benar-benar membuat Pricilia terpaku. Isinya sangat banyak, ada uang, pakaian baru, kunci motor, dan lainnya. Namun semua itu tergantikan dengan nyawa ibunya? Dirinya tersenyum lirih meratapi nasib.

Ensen, Kota Batu, 16 April 2015

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Ensen - Nagasena - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -