- Back to Home »
- Cerpen »
- Polkadot
Posted by : Unknown
19 Februari 2016
“Aku di sini berdiri di tepi pantai;
sendirian
Memandang awan-awan yang berarak,
ketika senja
Mengikuti arus jalannya kehidupan
Melingkari janji diri pada sendunya
langit jingga.”
(Tertulis di atas pasir putih,
ditemani dengan deburan ombak)
Ribuan kata manis selalu menjadi
pemanis kehidupan ini, tanpa kecuali dalam kehidupanku. Terkadang kita tak
butuh kata-kata di saat kita sedang sendiri.
Di
sini di pantai ini tak jauh dari rumahku. Aku sendiri. Berdiri, menikmati
indahnya deburan ombak, pasir putih, dan embusan angin yang lembut menerpa
kulit tubuhku.
Aku
menengada. Awan, berarak mengikuti arah angin, tanpa ada batasan yang
menghalanginya untuk bergerak, aku merentangkan tanganku “Ahhhkkk, lepas!” aku
ingin seperti mereka, bergerak dengan bebas tanpa ada beban yang menghalangi.
Angin, membelai kulit tubuhku.
Menerbangkan segala gundah, menyejukkan. Menentramkan. Menenangkan. Angin,
memiliki kekuatan. Membuat bangkai menjadi lapuk dan hancur. Angin pun mampu
meluluh lantahkan kehidupan.
Pandanganku lurus ke depan, menatap
ujungnya cakrawala, batasan antara laut dan langit. Deburan ombak
berkejar-kerjaran. Air, membawa kehidupan mengalir begitu saja, tanpa kita bisa
memrotes. Segala masalah muncul dan tenggelam dalam kehidupan. Kita tidak
mungkin bisa kembali ke masa lalu, bagaikan air yang mengalir tak mungkin
kembali ke hulu.
Mataku
tertambat pada sebuah patung bercorak design
tradisional Bali. Berdiri sendiri. Hanya ditemani deburan ombak dan embusan
angin, dengan rumah beratapkan langit dan beralaskan bumi, yang juga menjadi
sahabatku. Patung itu menarik perhatian orang-orang sekitar tempat tinggalku,
tanpa terkecuali aku. Bagaimana tidak, Patung itu terlihat seolah hidup. Ketika
kita memandangi patung itu, patung tersebut seperti memandang diri kita dengan
pancaran kasih, hingga banyak orang yang menumpahkan keluh kesahnya.
Aku mulai kembali mengingat memori
yang dulu hilang menjadi serpihan-serpihan debu yang halus, sulit untuk
disatukan kembali, tapi kehidupan harus kembali pada pencitraan corak hidup
awal yang pernah kutorehkan, inilah
hidupku!
***
“Heh ... lu kenapa ngelamun Pulta?” Tiba-tiba
aku dikejutkan sebuah sapaan.
Aku menoleh ke arah suara itu
berasal. Aku melihat seorang gadis sedang berdiri. dia sahabatku, Lotra.
Rambutnya panjang sebahu. Ia tampak manis sekali, dengan balutan T-shirt maroon dan celana jeans hitam.
seulas senyuman tipis tersungging di bibirnya.
“Enggak apa-apa kok, Lotra,” ucapku,
menatapnya sesaat, lalu kembali memandang langit biru, matahari saat itu tepat
berada di atas kepalaku.
“Ohh ya, besok ada tugas sekolah
kan!?” tanya Lotra ragu, matanya mengerjap-ngerjap memandangiku.
“Uhmm ... ngga ada tuh,” balasku
singkat, kemudian memandangnya dengan gurat wajah sedikit serius.
“Ha!? Suer lu?” tanya Lotra dengan
ragu padaku.
“Iyah Lotra.” Aku menatapnya lekat,
kemudian membiarkannya.
“Ya, gue percaya deh.” Setelah
berucap, dirinya berlalu dari sisiku.
Aku tetap memandangi langit,
menikmati setiap inci dari warna jingga yang selalu memeluk jiwa ini, terasa
nyaman dan hangat untuk dinikmati.
***
Malam ini. Tepat di tepi pantai. Aku
masih sendiri. Masih menikmati terpaan angin malam. Sembari menikmati suara
debur ombak yang saling mengadu. Masa-masa ini. Yang tengah kulalui bukanlah
saat yang mencekam untukku menjalani hidup, menikmati suasana angin yang
terkadang membelai wajah, kadang membuat tubuh mengigil kedinginan, namun aku
selalu percaya bahwa cintaku pada alam adalah suatu hal yang luar biasa.
Dunia
ini. Alam ini. Menurutku seluru isi alam semesta adalah sebuah anugrah. Dapat
dinikmati dengan seluruh indra, batinku, sambil
menikmati debur ombak yang mengadu.
Lotra, dia sudah pergi
meninggalkanku sendiri, ketika langit mulai berwarna jingga keemasan. Dan saat
malam ini, aku sendiri.
“Heh!!! Pulta lu tuh bangsat banget
sih!” terdengar pekik seorang lelaki dari kejauhan, memanggil namaku. Mengagetkanku
yang sedang asik duduk menikmati malam, tanpa bulan purnama. Membawa setangkai
bunga sedap malam, untuk diletakan di atas meja ruang tamu rumahnya.
“Kenapa lagi sih Rion?” ucapku
dengan nada memelas, pipiku memerah karena alergi. Alergi dengan bunga yang
dibawa Ixion.
“Ini nih! Bunga yang lu suruh bawa ke
rumah gue udah busuk!” bentak Ixion, sambil menunjuk-nunjuk mukaku.
“Wajar aja! Orang itu udah dua
hari!” aku membela diri. Mencoba menjelaskan bahwa bunga itu harus diganti. Jelas
saja jika tidak diganti akan menyebarkan bau tidak sedap.
“Haaa!? Masa sih harus diganti
setiap hari?” Ixion tiba-tiba terduduk dihadapanku, sambil memandangi pasir
pantai yang dipenuhi bau kerang.
Ixion, dia lucu, tapi dia juga
selalu membuat ulah karena tidak tahu banyak hal, tapi aku tetap suka dirinya. Menyukainya
sebagai sahabat sekaligus keluarga. Aku selalu memanggilnya dengan sebutan Rion,
karena itu adalah nama kecilnya.
“Iya Rion, semua bunga kalo udah mau
rusak yah harus diganti,” jelasku.
“Okay, sory tadi langsung
marah-marah ngga jelas.”
“Ngga apa-apa kok, asal ngga langsung
maen tangan aja.”
“Hahaha ... ngga lah, gue ngga
mungkin jotos muka lu Pulta.”
“Okay, i know that Rion,” ucapku,
sambil mengulas senyum.
“Oke, sip deh pokoknya, lu emang bes
prend gue.” Aksen inggris Ixion tidak begitu baik, tapi aku suka ketika suara
itu melontarkan bahasa inggris, rasanya seperti menikmati gelitikkan halus di
antara tengkuk leher.
Ixion, malam ini dia berdiri tepat
di sebelah ku, menikmati sapuan angin yang mengusap wajah kami berdua.
Merasakan setiap sapuan halusnya, menyelimuti kulit-kulit hingga terasa seperti
membeku. Aku suka rasa ini, dingin seperti es batu.
Dia duduk disampingku, dan mengusap
wajahku. Ixion memang lelaki, dia ku anggap seperti kakakku yang sudah tiada,
dan aku membangun cinta ini secara universal, bukan cinta berlandaskan napsu,
melainkan cinta yang bersih untuk saling menghargai.
Malam sudah larut, bahkan sudah
hampir menyentuh pagi. Aku beranjak dari tempatku dan kembali pulang, bersama
dengan Ixion. Di dekat jalan setapak, aku diam, berdiri merogoh saku celana.
Mengambil obat dan meminumnya.
“Itu apaan?” tanya Ixion.
“Ahkk ... bukan apa-apa kok Rion,
ini Cuma vitamin.”
“Coba sini! Gue minta,” ucapnya.
“Ngga!” pekikku, kemudian berlari
menjauhinya.
“Hehhhhh! Tunggu gue dodol!”
pekiknya, mengejarku yang berlari.
Ketika sampai rumah, aku segera
masuk. Mengunci pintu rumah. Membiarkan Ixion di depan rumah dengan napas yang
tersengal-sengal, kelelahan.
***
“Gue tahu, hidup ini tuh kaya tuts
piano, sekali ditekan langsung deh tuh bunyi kemana-mana,” ujarku sambil
menatap ke arah Ixion dan Lotra, mereka datang menghampiriku pagi ini. Mereka
membawa segenggam gundu, untuk dilemparkan ke laut.
“Yah emang begitu lah Pulta, namanya
aja manusia,” timpal Ixion
“Hmm ... tapi pernah ngga sih kalian
bayangin hidup ini kaya satu titik tinta yang menoreh sejuta kisah, tinta itu
perumpamaan dari satu orang, sifatnya beda tapi mereka punya jalan masing-masing
untuk melukiskannya kembali potongan-potngan kecil yang unik,” papar Lotra, dia
memang selalu membuatku terlena dengan ucapannya yang selalu berbobot, tapi
sederhana.
Aku beruntung, hidup di antara dua
orang ini, meskipun mereka masing-masing memiliki keburukan, percayalah aku
hanya membutuhkan segelintir memoar untuk menjadikannya utuh sebagai simbolik
kenyataan dunia baru.
Ketika
seluruh hidup ini menjadi tolak ukur untuk saling menghargai dengan penuh suka
cita dan kehancuran, saling menjatuhkan. Aku menamakan hidup ini sebagai gejala
murni tentang bagaimana sebuah kehidupan selalu terikat dengan simbol Yin dan
Yang. Mereka saling terkait, antara yin dan yang ada garis tipis berwarna
abu-abu yang disebut banyak orang sebagai sifat netral.
***
Tepat sebelum kami pergi, untuk
melemparkan gundu. Tiba-tiba dadaku terasa sesak bukan main, aku lupa meminum
obat yang selama ini ku konsumsi. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku,
pakaianku seperti terkena hujan, basah di mana-mana.
“Lu kenapa pulta!? Jangan becanda
deh,” ujar Ixion, melihatku yang sedang memegangi dadaku.
Aku terjatuh, terkapar di atas
lantai yang dilapisi semen tanpa keramik. Aku merasa tubuhku kaku. Seluruh
benda disekitarku ku pegangi, semuanya terjatuh. Vas bunga yang ada di atas
meja pun terjatuh ketika aku menggapai kain taplak meja.
“Pulta!!!”
pekik Lotra kalap, dan aku hanya bisa mendengarnya. Tidak ada satu kata yang
terucap dari bibirku, lidahku serasa kelu. Aku tak pernah berucap bahwa aku
memiliki komplikasi pada bagian organ dalamku, jantung. Setiap kali aku
bersembunyi meminum obat itu, obat penyambung nyawaku.
“Pulta!!! Lu kenapa sih!?” tanya
Ixion padaku, aku tak bersuara, tubuhku serasa melemas, aku terkapar di atas
tanah yang basah karena hujan pagi ini. Mereka panik bukan main, tapi aku hanya
diam.
“Pulta!!! Kita ke rumah sakit Tra,
kita bawa Pulta!!!” Ixion menggendongku di punggungnya, menunggu ambulan datang
untuk menjemput kami.
***
Setelah beberapa jam, suara sirine
ambulan datang, dengan para ahli medis, Ixion menurunkanku dari punggungnya,
membaringkanku di atas kasur dorong yang dibawa oleh para medis.
Samar-samar, kulihat semua orang
histeris mengantarku ke Rumah Sakit, BIMC Hospital, jalan Bypass Ngurah Rai 100
X, Kuta, Bali. Seluruh bau obat-obatan terciumi oleh hidungku, dan aku tidak
suka semua bebauan obat ini, aku ingin memberontak, tapi tak bisa, tubuhku
seperti terkunci, lemas.
“Pulta!!! Bertahan ya! Lu pasti
bisa, gue yakin! Lu orang baek,” ujar Lotra panik, melihatku yang terbaring
tanpa ada penjelasan dariku.
“Heh ... Pulta! Lu kenapa sih ngga
pernah bilang apa-apa tau-tau udah kaya begini, gila lu!” protes Ixion, Ixion
mengantarku hingga memasuki ruang UGD.
Ruangan ini, gelap. Lampu sorot
tunggal menyorot ke arah tubuhku, mereka seperti malaikat pemulih raga, aku
hanya terbaring lemah, pasrah.
“Si ... lau –“ ucapku terputus.
“Jangan banyak ngomong, De,” ucap
orang itu, dia memakai baju serba hijau.
Aku tertidur pulas, ketika jarum
suntik menembus kulit bagian tubuhku. Pikiranku terasa seperti melayang-layang,
aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.
***
“Pultaaaaaaaaa!!!” Lotra berteriak kencang, memanggil
namaku.
Aku hanya melihatnya, namun tak lagi bisa mengusap
wajahnya yang halus. Tak bisa membuat simpul senyum, yang kulihat dari mata
sembabnya, cucuran air mengalir. Ixion, dia kini jadi pendiam. Aku tidak tahu
kenapa dia begitu.
“Aku percaya, sesuatu yang kubangun dengan cinta, akan
berakhir bahagia,” bisikku pada Lotra, di depan batu nisan. Tertera nama,
Chicko Pulta.
Aku tahu, mereka peduli padaku. Ketika seseorang mulai
menebarkan cinta universal, kebaikan pada sesama, mereka akan mengenang seluruh
kenangan dengan tindakan positif, bukan dengan pandangan negative.
Ensen, Kota Batu, 16 Agustus 2015