Info Blog

Hey! Hey!

Ola gaes, di sini ensen mau kasih tau kalo kebanyakan foto dan apapun yang ada di blog ini bersifat hak cipta saya dan penulis yang menulis di blog ini. Foto juga merupakan hasil usaha dari ensen.

Bagi kalian yang ingin berbagi tulisan kalian dan jika kalian bisa mencari / mengambil foto silahkan usahakan sendiri, tapi jika tidak bisa akan ensen bantu kok. He he he.

salam literasi by

Ensen.


-happy reading-

Satu Kata




Apa kamu tahu?

Sekali lagi aku bertanya, apakah kamu tahu?

Antara gunung dan pepohonan
Antara samudra dengan daratan
Antara angin dan tanah nan elegan
Alur siang dan malam tanpa suara

Dia berdiri, antara batas langit dan daratan, di tengah malam temaram bertemankan bulan. Cahayanya berbeda dari biasanya.

Di sini, di bawah cahaya bulan. Therrese berdiri, bersanding pepohonan. Hidup bukan berarti hidup. Mati bukan berarti mati. Therrese tersenyum menatap bulan. Seakan bulan itu mengajaknya berbincang-bincang di tengah sunyinya malam. Berlatar kunang-kunang yang berterbangan.

"Apakah kamu pernah merasakan cinta?" Therrese bertanya pada bulan.

Sunyi. Tak ada jawaban. Tentu bulan tak akan menjawab. Bahkan hingga hari kiamat.

"Aku sedang mencinta." Batin Therrese, tersenyum lirih.

***

Rumah-Mu itu besar. Tapi kecil. Tidak sempit. Tidak pula luas.

Hujan itu seperti napas-Mu. Tapi aku terkadang merasa sesak ketika menghirup udara di antara hujan. Tentu saja aku akan tersedak karna air, dan membuatku sesak sehingga aku kesulitan bernapas.

Aku membenci hujan! Bukan karena aku tidak bersyukur. Melainkan karena aku tidak bisa bernapas dengan leluasa. Akhirnya aku memilih hanya untuk berbicara kepada bulan. Entah ketika aku merasa gundah, ataupun merasa bahagia.

"Dia, lelaki yang tinggi semampai. Rambutnya sedikit bergelombang. Berkulit hitam. Namanya Xeon." Ucap Therrese.

Dia hidup di antara ribuan bayangan di siang hari. Di malam hari dia seperti kegelapan yang melesat masuk. Menjeru di antara ketidakpastian.

"Aku menyayanginya, seperti darah hingga seluruh organ dalamku." Ujar Therrese.

Dia selalu berjalan di antara malam bersama bulan. Sedangkan Therrese berdiam di antara gelap dan berucap seorang diri pada bulan.

"Aku bahagia meskipun sendiri." Batin Therrese.

***

Suasana taman kecil itu terasa sendu. Memang matahari hampir kembali ke peraduannya. Tapi dirinya tak tersenyum atau berbahagia. Padahal banyak anak-anak kecil yang bermain di hadapan dirinya. Di sebelahnya tergeletak sebuah buku yang dibawa olehnya. Dirinya mengabaikan buku itu, dan hanya termangu diam di bawah pohon rindang tempatnya duduk. Dirinyalah yang disebut sebagai Xeon.

Ellith menghampiri dan mengambil buku yang berada disebelah Xeon. Xeon melihatnya. Namun tak merespon apapun.

Ellith menjauh dan berlari dari Xeon, sambil membawa buku di sebelah Xeon tadi. Membaca bagian depannya. Tapi tidak mengerti sedikitpun.

Ellith berlari hingga akhirnya mendapati Zac yang sedang duduk melukis awan, berlatarkan langit yang tengah berubah warna ketika matahari hampir menghilang.

"Hei, kamu tau? Maksud dari tulisan orang di sana itu apa?" Tanya Ellith, sambil menunjuk ke arah Xeon.

"Aku ngga tau." Balas Zac, singkat.

"Tulisannya terasa nyata." Ujar Ellith.

"Entahlah." Balas Zac, tanpa memandang Ellith.

"Uggh … kamu menyebalkan Zac!!" Ellith menjauh dari Zac. Berlari mendekati Xeon dan mengembalikan buku yang di ambilnya tadi, dari Xeon.

"Apa kamu membacanya?" Ujar Xeon, sontak Ellith merasa kaget.

Ellith mengangguk kecil menandakan jawaban "ya".

"Apa kamu mengerti?" Tanya Xeon

Ellith hanya menggelengkan kepalanya.

"Baiklah, itu sebenarnya adalah mimpi. Dia adalah seorang gadis yang kumimpikan hampir setiap malam."

"Lalu?"

"Entahlah, hanya saja seluruhnya terasa nyata."

"Bagaimana mungkin?"

"Aku juga tidak tahu."

"Ohh begitu. Langitnya hampir gelap, cepatlah kau pulang. Aku ingin pulang."

"Baiklah. Siapa namamu?"

"Ellith." Ellith menjauh, sambil melambaikan tangan.

***

Malam kembali tiba. Xeon terlelap di bawah pohon. Tempat di mana dirinya selalu mengahabiskan waktu. Xeon merasa dirinya seperti dipanggil kembali di antara kegelapan yang curam dalam mimpinya. Setitik cahaya pun bersinar. Mendekat dan akhirnya menghilang.

"Therrese?" Xeon menyebutnya begitu saja.

Seketika dirinya terbangun. Sekujur tubuhnya berkeringat. Dirinya mendekap bantal dan menitikkan air mata. Rasanya seperti mimpi buruk.

"Aku tidak pernah tahu. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Dirinya menatap ke langit, bertabur bintang dan bulan. Matanya masih berkunang-kunang, setengah sadar. Xeon menatap bulan dengan lekat. Bulan itu mengeluarkan siluet bakeperti wajah Therrese.

"Therrese." Ucap Xeon lagi, dalam keadaan setengah sadar.

***

"Aku mendengarmu, Xeon." Ujar Therrese.

"Aku memang hanya bayangmu, aku bagian dari masa lalu dirimu. Hingga waktunya tiba aku akan selalu di dekatmu. Melalu mimpi dan kenangan. Hukum silang antaralam. Bagian bawah hingga atas. Bumi yang satu dengan yang lain. Akan aku ingat dirimu. Meskipun hidup ini selalu berulang kembali. Aku takkan melupakanmu." Therrese tersenyum. Mengukir cinta dalam kata dan rasa.

Memahat kasih. Bak menjatuhkan bintang kejora dalam dada.

"Aku padamu."

***
"Aku hanya mengingat sedikit tentangmu." Ujar Xeon.

Kehidupan ini nyata. Antara alam yang satu dengan yang lain. Antara bumi yang satu dengan yang lain. Antara planet yang hidup dan mati. Antara galaxy yang saling berkesinambungan. Menderu dalam batin manusia dan mahkluk sekitarnya. Menjadi silang antar karsa dalam raga.

Hanya satu kata "damai" yang dicari banyak orang.

23 Maret 2016, Yogyakarta
-Ensen-

Dalam Maya




Aku mengenalnya
Melalui pena maya
Dalam untai aksara
Dalam sebuah temu
Tak nyata

Aku mengaguminya
Lebih dari kata
Lebih dari cinta

Namun kini
Hanya buah luka

Tergugah hati dalam nyata
Bahwa semua maya
Melalui nasehat diri
Tak 'kan 'ku kenal kata cinta
Yang hanya semu fatamorgana

Malang, 7-3-2016, Nabila R

Inspirasi



Hidup itu penuh pengorbanan
Seperti si dia, stik drumku
Yang rela berkorban
Demi tabuhan dalam bermain drum
Lebih dari sekedar
Kekasih pujaan hati

(Insipsi pagiku dari sang penggenggam stik drum kota seniman, Jogja)

Siapa yang tidak mengenal pendidikan? Pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Siapa yag tidak mengenal kota dengan julukan kota pelajar serta kota seniman, Jogja.  Sebuah daerah istimewa yang berada di pulau jawa, kota yang sangat mengispirasi. Dari sana banyak lahir seniman kondang di negeri ini. Bukan, bukan negeri dongeng namun negeri Indonesia.

Pada dasarnya pendidikan di Indonesia dibagi menjadi, pendidikan prasekolah, sekolah dasar, sekokah menengah, perguruan tinggi, universitas dan magang atau pelatihan. Apakah pendidikan formal menjadi sebuah acuan untuk orang dikatan orang tersebut berpendidikan?
Sepertinya tidak, bahkan kini para pelaku pendidikan formal seolah tak bermoral. Betapa tidak, banyak pengenggam pendidikan yang berperilaku tidak terpuji.

Mari kita berbicara tentang inspirasi. Apakah pendidikan sebuah inspirasi? Sepertinya tidak. Pendidikan saat ini sangatlah miris. Semua anak hanya diajar dalam seuah gedung berdinding beton, dengan pola pengajaran yang sangat monoton. Semua anak hanya akan dituntut tanpa dituntun.

Jika dilihat dari kacamata inspirasi, apakah ruangan sempit bersekat beton akan selalu menplahirkan inspspirasi? Pastinya tidak. Malah semua itu akan mematikan inspirasi setiap anak.

Inspirasi bukan melulu didapatkan dari sebuah pendidikan formal. Tapi bisa dilihat dari hobi dan cara kita membaca situasi. Inspirasi bisa didapat dari orang lain atau secara otodidak. Bicara soal inspirasi yang berasal dari cara kita membaca situasi. Katakanlah seorang drumer, dia bisa mengatakan bahwa drum sangat mengispirasinya. Drum yang rela tersakiti karena terus dipukul tapi dia rela sakit demi menghasilkan sebuah karya yang terbaik. Benar, drum juga bisa mejadi inspirasi seseorang.

Apakah hanya drum yang bisa menginspirasi seseorang? Tidak, tapi semua berasal sebuah kata yang dinamakan "cinta". Bukan cinta kita kepada seseorang tapi kecintaan kita akan hal yang bisa mengispirasinya,  bisa dari sebuah hobi dan juga pola pikir.

Seorang penulis bisa terinspirasi dari sebuah pena. Seorang penulis bisa terinspirsi dari sebuah kertas bungkus bekas untuk menghasilkan sebuah karya ataupun tulisan. Seorang penulis bisa pula terinspirasi dari sebuah konflik kecil di sekitar dan menjadikannya menjadi sebuah tulisan yang menarik.

Mari kita lihat, seorang motifator bisa mengispirasi banyak orang untuk giat menjalani kehidupan. Entah seorang tersebut cacat ataupun karena kata-kata mutiaranya yang sangat membangun. Inspirasi sangat penting bagi semua orang tanpa kecuali. Namun janganlah pernah mematikan inspirasi dengan memaksakannya menjalani hal yang sangat tidak pernah dikehendakinya.

Karena inspirasi sesorang bisa datang tanpa disadari. Karena isnpirasi bisa memlahirkan sebuah pekerjaan bagi seseorang. Karena inspirasi pula bisa lahir karya indah di dunia ini melalui tangan para seniman lukis, musik, tulis dan lainnya.

Pendidikan sangatlah penting namun jangan pernah menjadi penghalang untuk seseorang melahirkan sebuah karya.

Malang, 8-3-2016, Nabila Raf

Rana

Detik risau mengasa
Denting melodi merana
Deburan hasrat dalam raga
Dentum alunan siaga

Rinai air melesap
Rintih tangis menetap

Ruam, sanubari mengecap
Rumput pun berdansa; kalap

Sila; moral berdawai
Sisih jiwa dalam hati

Terselubung gelap
Terkulai dalam kelam; lelap

Yogyakarta, 23 Februari 2016

-Ensen-

CINTA SEGITIGA




Berawal dari mata
Merasuk, melesap salam angan
Seolah terpaku dalam dada

Diri hanya bisu,
Bisu dan enggan menujamu
Karena satu kata tertuang dalam dada
Sungguh penuh makna
Sederhana,
Tak perlu kias sangsekerta
Cinta

Seolah kau tuangkan cinta dalam diariku
Lalu kau bawa bersama mimpi gelapku

Namun,
Diri rapuh
Haya sekedar segitiga yang 'ku dapat
Bukan berarti segitiga bermuda
Ataupun segitiga dalam matematika
"Segitiga Cinta"

Segitiga yang terlalu rumit
Tuk terpecahkan
Hanya kau, aku, dan segumpal kasih
Yang mampu menghancurkannya--segitiga cinta


Malang, 20-02-2016

-Nabila.R-

Gambaran Luka



Malam kian larut
Hanya berteman sang pena
Pena yang sejak dahulu
Melukis kisah antara kamu dan aku

Namun,
Semua sirna
Kau begitu dusta
Kau ingkari semua cerita yang pernah ada
Bahkan kata hanya terbuang sia-sia

Hadirmu selalu melukiskan
Sebuah kesan indah
Dalam setiap kanfas kehidupan

Kini,
Percuma sudah
Hanya luka menganga yang kau goreskan

Kau sayat hati ini,
Menjadi butiran granul tak bernyawa

Aku,
Hanyalah sebuah atom tak berdaya
Lemah dimata dunia
Yang harus selalu menguras air mata
Saat luka datang begitu nyata..

 -Nabila R- Malang, 19-2-16

Kedatangan Tamu Baru




Kali ini seorang penulis yang masih muda, meski belum terkenal tetapi niatnya untuk selalu menulis selalu menggebu. Sifat ceria dan sedikit cerewet akan selalu menemani harinya. Anak ini bernama Nabila Rafidatur. Jika ingin mengenalnya lebih jauh ini nih FB nya https://www.facebook.com/profile.php?id=100009410525295&ref=ts&fref=ts

Saya sebagai pengurus sudah cukup dekat mengenal orang ini. Semoga para reader bisa menikmati tulisannya ya

Keep spirit for writing!

- Copyright © Ensen - Nagasena - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -